Menimbang Wacana Full Day School

setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Muhadjir Effendy, mewacanakan full day schoolditerapkan di sekolah dasar dan menengah negeri di Indonesia. Seperti yang sudah diketahui bahwa sistemfull day school tersebut sudah terlebih dahulu diimplementasikan oleh sekolah-sekolah swasta.

Sesaat setelah dilontarkannya wacana tersebut, gelombang pro dan kontra mengalir dengan cepat. Pihak yang mendukung wacana full day school menganggap bahwa sistem full day school adalah sistem pendidikan yang dapat membantu para orang tua yang memiliki jam kerja tinggi sehingga dengan sistemfull day school, anak bisa belajar dalam lingkungan yang terarah. Selain itu, anak bisa belajar di sekolah selama orang tua belum pulang dari bekerja. Dengan demikian, anak berada dalam lingkungan yang diawasi.

Sedangkan pihak yang menolak sistem full day school menganggap sistem tersebut bisa mereduksi keterampilan interaksi sosial anak dengan masyarakat sekitar dan membebani pikiran dan psikologis anak. Mereduksi keterampilan interaksi sosial anak dengan masyarakat karena anak dididik menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah. Sehingga tidak ada waktu untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Dengan demikian, dikhawatirkan anak tidak terdidik untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya.

Terkait wacana sistem sekolah sehari penuh tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Muhadjir Effendy menjelaskan bahwa sistem full day school yang dimaksud bukan berarti belajar sehari penuh tetapi memastikan peserta didik mengikuti penanaman pendidikan karakter. Kegiatan peserta didik nantinya akan ditambah dengan kegiatan ko-kurikuler seperti kesenian dan keterampilan.

Di sisi lain, Asrorun Ni’am (Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menyatakan bahwa sistem full day school atau sekolah sehari penuh ini akan mengurangi intensitas interaksi dengan orang tua. Pada akhirnya, akan mempengaruhi tumbuh kembang anak yang kurang optimal. Selain itu, sistem pendidikan juga harus menghargai keragaman daerah masing-masing yang memiliki ciri khas dalam mewujudkan pendidikan yang optimal.

Tulisan ini akan memfokuskan pada berbagai kemungkinan yang terjadi ketika sistem full day school atau sekolah sehari penuh diterapkan secara menyeluruh. Namun, sebelum itu, akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai sistem full day school. Dalam bukunya Full Day School & Optimalisasi Perkembangan Anak(2008: 61), Wiwik Sulistyaningsih mengemukakan bahwa full day school merupakan model sekolah umum yang memadukan sistem pengajaran agama secara intensif. Dengan demikian, full day school menerapkan tambahan waktu khusus untuk pendalaman keagamaan siswa dan kegiatan rekreatif. Maka dari itu, pembelajaran dimulai pukul 07. 00 WIB dan pulang pada pukul 15.00 WIB. Sedangkan pada sekolah-sekolah umum atau sekolah-sekolah konservatif, anak biasanya sekolah sampai pukul 13.00 WIB. Rasio guru pada sistem full day school idealnya adalah satu guru bertanggung jawab pada sepuluh anak.

Sistem full day school hadir sebagai jawaban bagi zaman yang menunjukkan krisis moral dan di sisi lain, tuntutan pekerjaan orang tua semakin tinggi sehingga jam kerja pun semakin bertambah. Meskipun demikian, sistem ini perlu dikaji dari berbagai segi. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa sistem sekolah sehari penuh ini idealnya satu guru bertanggung jawab atas sepuluh anak. Pertanyannya, apakah sekolah dan pemerintah bisa mempersiapkan guru yang memadai sehingga rasio ideal tersebut bisa dicapai? Permasalahan selanjutnya adalah, apakah sekolah dan pemerintah mampu membentuk guru menjadi guru yang terampil dan kuat dalam membimbing dan mendidik anak sehari penuh?

Kemungkinan permasalahan yang lain bisa saja muncul. Sistem sekolah sehari penuh memberikan tambahan berupa pelajaran keagamaan. Apakah sekolah dapat mempersiapkan guru yang berkompeten dalam bidang keagamaan untuk membimbing anak? Karena tidak semua guru berkompeten dalam bidang keagamaan. Bidang keagamaan juga bukan merupakan bidang yang bisa dengan mudah dipelajari hanya dengan buku dan guru biasa. Terlebih lagi banyak hal dalam keagamaan yang bersifat abstrak dan butuh metode atau teknik khusus untuk memahamkan anak yang dalam masa perkembangannya, anak-anak sampai remaja itu memiliki karakter yang ingin tahu dan tidak puas akan jawaban.

Selain itu, kalau pun di sistem sekolah sehari penuh memberikan tambahan pelajaran keagamaan, hasilnya akan kurang maksimal. Hal ini disebabkan karena varian pelajaran keagamaan yang diberikan terbatas, misalkan hanya hafalan surat. Bisa kah sekolah-sekolah menyediakan pelajaran Al Qur’an, hadits, tauhid, tarikh Nabi, tajwid, nahwu, sharaf, fiqh, atau pelajaran keagamaan lain yang bersifat khusus (bagi penganut agama selain Islam)? Jika pun bisa, lalu apa bedanya antara sekolah umum dengan sekolah keagamaan? Sehingga akan berakibat pada kurikulum yang dianut. Jika pun bisa, seberapa jauh sekolah bisa menyediakan guru-guru yang berkompeten dalam pelajaran-pelajaran keagamaan itu?

Selain itu, stamina anak sudah berkurang meskipun sekolah sudah menyediakan waktu istirahat. Tetapi apakah istirahatnya tersebut bisa dipastikan istirahat tidur siang? Berbeda halnya jika anak pulang sekolah jam 13.00, anak bisa makan siang dan istirahat di rumah. Orang tua bisa berinteraksi dengan anak setelah anak pulang sekolah kemudian mengkondisikan anak untuk tidur. Lalu pada sore hariya selepas ‘Ashar, anak diikutkan ke pembelajaran agama di madrasah sore atau TPA. Hasilnya akan lebih maksimal. Terlebih lagi di madrasah dan TPA, pengajarnya lebih berkompeten dalam bidang keagamaan, serta jenis pembelajaran keagamaannya lebih banyak dan pembahasannya lebih mendalam.

Wacana Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Muhadjir Effendy, menerapkan sistem sekolah sehari penuh karena ingin membentuk karakter dengan kegiatan permainan dan keterampilan. Konsekuensinya, sekolah juga harus bisa menyediakan tenaga pengajar yang berkompeten dalam bidang itu. Selain itu, pengajar keterampilan dan permainan juga harus memahami metode transfer pengetahuan dan internalisasi nilai pada peserta didik, sehingga tidak sekedar berkompeten dalam bidang keterampulan dan permainan. Jika pengajar keterampilan dan permainan haya berkompeten dalam memberikan keterampilan dan permainan tanpa bisa menginternalisasikan nilai di balik keterampilan dan permainan itu, pembentukan karakter akan kurang maksimal.

Seperti yang sudah dijelaskan, sistem sekolah sehari penuh merupakan jawaban bagi orang tua yang memiliki kesibukan tinggi dalam bekerja. Lalu, apakah semua orang tua di semua daerah di Indonesia sibuk bekerja sampai sore dan malam hari? Tentu saja tidak. Di sisi lain, terdapat banyak fenomena bahwa sistem sekolah sehari penuh yang berniat membantu orang tua mendidik anak, disalahpahami oleh banyak orang tua bahwa sudah cukup bagi anak untuk belajar di sekolah. Sehingga, kondisi yang ada adalah pelemparan tanggung jawab mendidik anak dari orang tua ke sekolah. Padahal, orang tua yang justru memiliki tanggung jawab utama dalam mendidik dan membentuk karakter anak. Kunci terbentuknya karakter anak adalah dari bagaimana orang tua berinteraksi dan seberapa jauh orang tua memiliki kedekatan emosional dengan anak.

Terlebih lagi, jelas Muhadjir Effendy, sistem sekolah sehari penuh yang diwacanakan akan mengakhiri jam pelajarannya pada pukul 17.00. Anak akan kelelahan dan mempengaruhi intensitas komunikasi dengan orang tua. Ini yang dikhawatirkan oleh Asrorun Ni’am (Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia). Padahal, orang tua adalah kunci tumbuh kembang anak, terlebih lagi mengenai perkembangan emosi dan psikologisnya. Orang tua adalah pihak yang selalu bersama dengan anak sepanjang masanya. Sehingga, orang tua yang menjadi kunci perkembangan emosi dan psikologis anak. Orang tua harus memenuhi kewajibannya dalam memenuhi kebutuhan asah, asih, dan asuh anak. ketika orang tua dapat memenuhi kebutuhan asah, asih, dan asuh anak, maka karakter anak akan terbentuk dengan baik.

Belum lagi intensitas sosialisasi anak dengan lingkungan sekitarnya akan sangat terbatas juga. Meskipun wacananya hari Sabtu dan Minggu menjadi hari libur, tetap saja berpengaruh pada pola komunikasi anak dengan keluarga dan masyarakat. Karena yang dibutuhkan dalam berkomunikasi dan berinteraksi bukan soal kuantitas waktu, tetapi intensitas dan kontinuitas sehingga terbentuk pola yang rutin dan terus menerus dilakukan sehingga membentuk karakter dan sikap anak. Jika sistem sekolah sehari penuh menawarkan belajar sampai sore dan dua hari libur, kuantitas komunikasi dan interaksi dengan keluarga mungkin bisa saja tercukupi, namun kontinuitas dan intensitasnya tidak dapat terpenuhi sehingga tumbuh kembang anak akan kurang maksimal.

Dampak lainnya adalah bisa saja orang tua menjadi kurang peka terhadap tumbuh kembang anak karena kebersamaan orang tua dengan anak otomatis akan berkurang juga. Selain itu, orang tua bisa kesulitan untuk mendekati anak. Efeknya, kedekatan emosional orang tua dengan anak akan berkurang. Pada akhirnya, orang tua kurang mampu membaca sikap anak dan permasalahan anak. Dampak masa depannya bisa saja memberikan anggapan pada anak bahwa keluarga bukan “tempat kembali” ketika anak bermasalah.

Berbeda dengan sistem boarding school atau pondok pesantren, meskipun anak memiliki intensitas pertemuan dengan orang tua yang sangat terbatas, namun dalam pondok terdapat figur (kiai atau ustadz) yang selalu mengawasi dan menginternalisasi nilai dan karakter. Terlebih lagi doktrin tentang adab menghormati orang tua sangat ditekankan. Sehingga, karakter menghormati dapat terbentuk secara maksimal. Sistem pesantren juga menganut pembelajaran yang berkala atau pada waktu-waktu tertentu namun rutin dan kontinyu sehingga tidak memforsir stamina individu.

Dengan demikian, sistem sekolah sehari penuh tidak perlu terburu-buru untuk diterapkan. Perlu kajian mendalam dan dalam jangka waktu yang panjang. Karena untuk membentuk anak tahan banting dan berkarakter tidak harus dengan sistem sekolah sehari penuh, tetapi dengan orang tua memenuhi kebutuhan asah, asuh, asih anak. Kebijakan yang baik bukan didasarkan atas perbedaan kebijakan yang baru dengan kebijakan yang lama, namun didasarkan pada seberapa jauh analisis SWOT dilakukan pada kebijakan yang akan dicanangkan. Wallâhu a’lam bish shawâb.

Oleh : Ahmad Saifuddin