Alamat
Jl Monjali Nandan Sariharjo Ngaglik Sleman DIY
No Whatsapp
0895-4175-55775


Sumber: Pinterest
“Nek udu santri, sopo maneh sing arep ngurip-ngurip sunnah”
begitulah dawuh Kiai Chamdani Yusuf dalam salah satu momen ngaji bandongan. Kalimat yang sederhana, tetapi penuh daya pukau. Sebuah pesan agar para santri tidak hanya sibuk menekuni kitab kuning, tetapi juga serius menjaga dan menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ—bahkan yang tampak kecil dan sering dianggap remeh.
Salah satu sunnah yang sering dilupakan adalah rajin memotong kuku. Terlihat sepele, padahal justru di situlah letak ujian cinta kita kepada Rasulullah ﷺ.
Sunnah potong kuku merupakan bagian dari fitrah yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah hadis sahih riwayat Imam Muslim, beliau bersabda:
خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ، وَالِاسْتِحْدَادُ، وَنَتْفُ الإِبْطِ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ
“Ada lima perkara dari fitrah manusia: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan merapikan kumis.” (HR. Muslim)
Dari hadis ini jelas, kebersihan tubuh bukan sekadar soal kerapian, melainkan bagian dari ibadah dan fitrah manusia.
Syekh Abul Laits as-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin menegaskan:
مَنْ أَهْمَلَ النَّظَافَةَ فَقَدْ أَهْمَلَ السُّنَّةَ
“Barangsiapa meremehkan kebersihan, maka sejatinya ia telah meremehkan sunnah.”
Pernyataan ini memberi pesan tegas bahwa kebersihan bukan sekadar perkara jasmani, melainkan bukti ketaatan seorang hamba. Bagi santri, memotong kuku, menjaga kerapian, hingga membersihkan lingkungan pondok bukan pekerjaan remeh, melainkan bagian dari menghidupkan sunnah Nabi ﷺ.
Hal-hal kecil semacam ini mendidik santri untuk rendah hati, menghormati sesama, dan menjaga keberkahan ilmu. Kuku yang rapi bukan hanya nyaman dipandang, tetapi juga mencerminkan kesiapan batin untuk menjemput keberkahan.
Dalam Hilyatul Auliya’, diceritakan bahwa Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, sangat menjaga penampilan ketika hendak mengajar hadis. Beliau selalu mandi, memakai minyak wangi, serta memotong kuku sebelum duduk menyampaikan sabda Rasulullah ﷺ.
Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab:
“Aku ingin menghormati hadis Nabi dengan penampilan yang terbaik, sebab yang kusampaikan adalah warisan Rasulullah ﷺ.”
Dari kisah ini, kita belajar bahwa adab dalam menjaga kebersihan, termasuk memotong kuku, adalah bentuk penghormatan terhadap ilmu sekaligus cinta kepada Nabi.
Sering kita mendengar santri berpegang pada dalil:
مَنْ أَحَبَّ سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي
“Barangsiapa mencintai sunnahku, maka sungguh ia mencintaiku.”
Namun ironis bila kalimat itu hanya berhenti di lisan. Santri membaca dalil dengan fasih, tetapi kukunya panjang, hitam, dan tidak terawat. Padahal kebersihan lahir adalah bukti nyata cinta batin.
Cinta itu akan tampak pada dzahir seseorang, sebagaimana dawuh ulama:
الوَجْهُ مِرْآةُ القَلْبِ
“Wajah adalah cermin hati.”
Begitu pula dengan kuku dan penampilan. Apa yang tampak di luar sering kali mencerminkan kondisi di dalam.
Bagi santri maupun mahasiswa, memotong kuku bukan hanya soal sunnah, tetapi juga soal profesionalisme. Orang yang rapi dan bersih akan lebih mudah dipercaya. Penampilan yang terawat juga menjadi cermin kesungguhan dalam hidup.
Dalam konteks sosial, menjaga kebersihan diri berarti menghormati orang lain. Bayangkan jika seseorang berbicara tentang perubahan besar, tetapi kukunya saja kotor dan panjang. Pesannya tidak akan sampai.
Santri hari ini bukan hanya calon kiai, tetapi juga calon intelektual, akademisi, bahkan pemimpin bangsa. Maka sunnah-sunnah sederhana seperti memotong kuku bisa dipandang sebagai training untuk hidup tertib, rapi, dan disiplin. Dalam dunia profesional, orang yang bersih dan terawat akan lebih dihargai. Dari sinilah sunnah kecil berbuah manfaat besar: kepercayaan masyarakat.
Menghidupkan sunnah tidak harus menunggu momentum besar. Dari hal kecil seperti kuku, ada cinta yang sedang kita rawat. Dari kuku yang rapi, ada akhlak yang tercermin. Dari kuku yang bersih, ada doa tanpa kata: semoga hati pun ikut bersih.
Rasulullah ﷺ adalah teladan sempurna. Hingga urusan kuku pun beliau ajarkan dengan hikmah. Menghidupkan sunnah berarti meneladani beliau secara menyeluruh—baik dalam perkara besar maupun kecil.
Jangan meremehkan perkara kecil. Sunnah memotong kuku mungkin sederhana, namun keberkahannya besar. Dawuh ulama mengatakan:
مَنْ اِسْتَصْغَرَ الْمَعْرُوفَ حُرِمَ الْقَبُوْلَ
“Barangsiapa meremehkan kebaikan kecil, maka ia akan terhalang dari penerimaan kebaikan besar.”
Maka, mari sebagai santri dan pecinta Nabi ﷺ, kita rawat sunnah ini. Jangan biarkan kuku menjadi saksi kelalaian kita. Sebaliknya, jadikan ia saksi cinta kita kepada Rasulullah ﷺ—cinta yang lahir dari hal kecil namun berbuah keberkahan dunia akhirat.
والله أعلمُ بالـصـواب
Kontak Kami Sekarang

